Creative Talk DKV IIB Darmajaya, Desain Grafis Banyak Dibutuhkan Korporasi, Pemerintah, UMKM dan NGO

Creative Talk DKV IIB Darmajaya, Desain Grafis Banyak Dibutuhkan Korporasi, Pemerintah, UMKM dan NGO

3 2
<
>

BANDARLAMPUNG – Desain Komunikasi Visual (DKV) mempelajari banyak hal.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Edukasi Riset dan Pengembangan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI) Wulan Pusponegoro dalam Creative Talk Program Studi DKV Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya melalui zoom meeting Sabtu, (20/6/20). Creative Talk tidak hanya diikuti oleh peserta dari Provinsi Lampung tetapi juga berbagai kota lainnya seperti Bandung, Surabaya, Jakarta, Palembang, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Masuk DKV itu juga tidak mempelajari satu hal. Karena nanti keluarnya juga berbeda-beda,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk lulusan DKV saat ini banyak yang bekerja pada dunia digital. “Seperti UI/UX designer, startup design, infographic designer, dan motion graphic designer,” bebernya.

Profesi designer juga, lanjut dia, dapat bekerja freelance, in house designer, dan studio. “Dalam freelance ini banyak proyek desain bagi desainer merupakan hal yang seru karena dapat menghasilkan. In house designer biasanya diikat oleh sebuah perusahaan dengan ditempatkan di bagian marketing dengan dipimpin seorang yang kurang memahami desain,” tuturnya.

Untuk bekerja di studio, kata Wulan, seorang designer biasanya cocok dengan leadernya yang juga memahami desain. “Banyak desainer dibutuhkan oleh korporasi, pemerintah, UMKM, dan NGO. Seorang desainer juga dapat berbagi pengalamannya dalam sebuah komunitas seperti ADGI dan seru,” imbuhnya.

Menanggapi salah satu pertanyaan peserta, Wulan menerangkan seorang desainer juga ikut terlibat dalam sebuah proyek perfilman. “Desainer sangat dibutuhkan juga dalam dunia perfilman karena di dalamnya terdapat in house designer seperti film Wiro Sableng,” ujarnya.

Lulusan Desain Grafis di Indonesia masih jauh kalah dibandingkan dengan kedokteran. “Ada 120an kampus yang memiliki DKV dengan lulusannya per tahun sekitar 5 ribuan. Banyak juga yang kuliah di DKV tetapi tidak menjadi seorang desain grafis ketika lulus,” terangnya.

Wulan menjelaskan desain grafis dapat dipelajari secara otodidak ilmunya. “Ada juga mereka yang sudah dari lahiriah dan mengetahui kaidah-kaidah dari desain. Profesi Desain Grafis sebenarnya belum besar di Indonesia, Bekraf melakukan survei dengan BPS hanya terdapat 0,06 persen yang menyumbang GDP Indonesia,” terangnya.

Kemungkinan banyak yang berprofesi sebagai freelance. “Dalam menjaga karyanya desain grafis juga dapat mendaftarkan melalui Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Bila terdapat penggunaan karya juga bisa melaporkannya ke penegak hukum atau langsung dilakukan somasi,”  kata Wulan menjawab pertanyaan peserta.

Sementara, Ketua Prodi DKV IIB Darmajaya, Abdi Darmawan, S.Kom., M.T.I., mengatakan pelaksanaan webinar dengan pembicara dari ADGI ini juga dapat membuka khasanah peserta mengenai dunia desain grafis. “Lulusan DKV saat ini menjadi banyak dibutuhkan stakeholder dan sudah disampaikan juga tidak hanya di Indonesia tetapi dunia. Lulusan DKV juga dapat menjadi freelance dengan menjual karyanya,” ungkapnya.

Penghasilan desain grafis juga lumayan besar atas karya yang diciptakannya. “IIB Darmajaya memberikan kesempatan untuk milenial di Lampung dan Indonesia untuk menjadi bagian dari lulusan tersebut dengan mendaftarkan diri sekarang ke pmb.darmajaya.ac.id,” pungkasnya.

 

two × 4 =

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × three =